Sabtu, 01 November 2008

Dandan Bukan Kodrat Perempuan

Oleh: Agnes Purba,dkk

Koran Tempo edisi Sabtu, 25 Oktober 2008, halaman A17 memuat berita tentang kebiasaan baru calon Wakil Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Sarah Palin. Dikatakan, mantan Gubernur Alaska itu memiliki kebiasaan menghabiskan uang kampanye untuk mempersolek dirinya.

Kami tidak mempersoalkan kebiasaannya tersebut karena itu menjadi domain rakyat Amerika, yang sedang tertimpa resesi ekonomi akibat krisis keuangan global. Kami juga tidak mempertanyakan apa motif Sarah Palin mempercantik dirinya pada musim kampanye karena hal itu menjadi urusan tim kampanyenya.

Kami hanya terganggu oleh pernyataan pada kalimat pertama (lead) berita tersebut, yaitu "Berdandan adalah kodrat tiap perempuan". Menurut kami, berdandan adalah bagian dari konstruksi sosial-budaya yang menuntut perempuan mesti tampil cantik atau anggun. Sedangkan kodrat adalah sesuatu yang melekat dalam diri seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, karena diciptakan oleh Tuhan. Misalnya, perempuan memiliki vagina, sedangkan laki-laki memiliki penis; perempuan mengandung dan melahirkan anak, sedangkan laki-laki tidak dapat mengandung dan melahirkan anak. Karena merupakan ciptaan Tuhan, hal kodrati tidak dapat berubah dalam konteks waktu dan ruang.

Sedangkan konstruksi sosial-budaya, seperti perempuan suka berdandan, perempuan harus tampil cantik, bukan merupakan hal kodrati karena bukan diciptakan Tuhan, melainkan bentukan masyarakat. Karena merupakan bentukan sosio-kultural, semua bentuk konstruksi terhadap perempuan dapat diubah dan berbeda-beda antara masyarakat yang satu dan yang lainnya. Dalam persoalan dandan, misalnya, saat ini tidak cuma kaum perempuan yang punya hobi berdandan, tapi juga kaum laki-laki, seperti laki-laki metroseksual. Sebaliknya, banyak juga kaum perempuan yang tidak terlalu peduli dengan penampilannya.

Karena itu, melalui surat pembaca ini, kami merasa perlu memberikan klarifikasi kepada Koran Tempo atas pernyataan "Berdandan adalah kodrat perempuan" pada lead berita berjudul "Mahalnya Memoles Sarah Palin". Klarifikasi ini kami pandang perlu karena media massa perlu mengembangkan jurnalisme sensitif gender dengan mendekonstruksi mitos-mitos yang salah tentang perempuan.

Agnes Purba dan kawan-kawan
Anggota PMKRI Cabang Jakarta Pusat

Rencana Natal dan Tahun Baru PMKRI


Pada 25 Oktober lalu, beberapa anggota PMKRI Cabang Jakarta Pusat berakhir pekan di daerah Ciawi-Bogor. Seorang anggota kebetulan mempunyai vila di daerah ini.

Kami berpikir, kita perlu menepi dulu dari rutinitas metropolitan.

Seperti biasa akhir pekan adalah kesempatan untuk berekreasi, menikmati udara segar di luar Jakarta. Malam hari, dalam sebuah cottage kami berbincang banyak hal, termasuk yang paling serius adalah membicarakan kondisi perhimpunan. PMKRI memang takan terlupakan dalam benak setiap anggota apalagi yang masih aktif, dalam suka dan duka, dalam susah dan senang.

KEPRIHATINAN. Barangkali kata yang satu ini cukup merepresentasikan perasaan teman-teman malam itu. Prihatin karena telah dua tahun (2006-2008) PMKRI secara nasional sibuk dengan urusan pro kontra pengurus pusat. Sejumlah cabang mengakui Tomy Jematu sebagai ketua presidium PP PMKRI Periode 2006-2008. Di sisi lain, sejumlah cabang juga tidak mengakui Tomy sebagai ketua PP PMKRI dan menganggap selama dua tahun ini PMKRI tidak memiliki pengurus pusat.

Tentu ini sangat disayangkan. Karena bila kita membaca visi-misi PMKRI, organisasi yang telah berumur 62 tahun ini, bukanlah partai politik, tetapi sebuah organisasi mahasiswa. Dalam wadah ini berhimpunlah mahasiswa-mahasiswa Katolik yang memiliki idealisme untuk memperjuangkan penegakkan keadilan, kemanusiaan, dan persaudaraan sejati. Karena itu, dalam wadah ini semua anggota belajar untuk memiliki kepedulian, dengan berjuang dan terlibat bersama masyarakat yang tertindas oleh kekuasan.

Tetapi yang terjadi selama ini, banyak anggota yang beramai-ramai berebut kekuasaan, bukan beramai-ramai membantu orang-orang tertindas atau membebaskan dirinya dari berbagai macam bentuk penindasan kelompok dominan.

INILAH REALITAS PERHIMPUNAN. Gontok-gontokan berebut kekuasaan. Akibatnya, persaudaraan sejati diantara kita sirna. Ini jangan sampai terjadi terus-menerus, harus ada upaya untuk membangkitkan kembali rasa persaudaraan itu.

Karena itulah malam itu, muncul ide untuk membuat perayaan natal dan tahun baru bersama. Tema yang ditawarkan adalah "Lahir Kembali dalam Semangat Persaudaraan".

Malam semakin larut, udara semakin dingin menusuk tulang, tetapi semangat tetap membara untuk mendiskusikan bagaimana mewujudkan rencana natal dan tahun baru bersama ini.

Waktunya ditetapkan 10 Januari 2009, panitia kecil pun dibentuk. Saudara Desy Hapsari didaulat untuk menjadi koordinator.

Selamat Bekerja, Semoga sukses !!!
Pro Ecclesia et Patria !!!