Koran Tempo edisi Sabtu, 25 Oktober 2008, halaman A17 memuat berita tentang kebiasaan baru calon Wakil Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Sarah Palin. Dikatakan, mantan Gubernur Alaska itu memiliki kebiasaan menghabiskan uang kampanye untuk mempersolek dirinya.
Kami tidak mempersoalkan kebiasaannya tersebut karena itu menjadi domain rakyat Amerika, yang sedang tertimpa resesi ekonomi akibat krisis keuangan global. Kami juga tidak mempertanyakan apa motif Sarah Palin mempercantik dirinya pada musim kampanye karena hal itu menjadi urusan tim kampanyenya.
Kami hanya terganggu oleh pernyataan pada kalimat pertama (lead) berita tersebut, yaitu "Berdandan adalah kodrat tiap perempuan". Menurut kami, berdandan adalah bagian dari konstruksi sosial-budaya yang menuntut perempuan mesti tampil cantik atau anggun. Sedangkan kodrat adalah sesuatu yang melekat dalam diri seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, karena diciptakan oleh Tuhan. Misalnya, perempuan memiliki vagina, sedangkan laki-laki memiliki penis; perempuan mengandung dan melahirkan anak, sedangkan laki-laki tidak dapat mengandung dan melahirkan anak. Karena merupakan ciptaan Tuhan, hal kodrati tidak dapat berubah dalam konteks waktu dan ruang.
Sedangkan konstruksi sosial-budaya, seperti perempuan suka berdandan, perempuan harus tampil cantik, bukan merupakan hal kodrati karena bukan diciptakan Tuhan, melainkan bentukan masyarakat. Karena merupakan bentukan sosio-kultural, semua bentuk konstruksi terhadap perempuan dapat diubah dan berbeda-beda antara masyarakat yang satu dan yang lainnya. Dalam persoalan dandan, misalnya, saat ini tidak cuma kaum perempuan yang punya hobi berdandan, tapi juga kaum laki-laki, seperti laki-laki metroseksual. Sebaliknya, banyak juga kaum perempuan yang tidak terlalu peduli dengan penampilannya.
Karena itu, melalui surat pembaca ini, kami merasa perlu memberikan klarifikasi kepada Koran Tempo atas pernyataan "Berdandan adalah kodrat perempuan" pada lead berita berjudul "Mahalnya Memoles Sarah Palin". Klarifikasi ini kami pandang perlu karena media massa perlu mengembangkan jurnalisme sensitif gender dengan mendekonstruksi mitos-mitos yang salah tentang perempuan.
Agnes Purba dan kawan-kawan
Anggota PMKRI Cabang Jakarta Pusat